Berawal dari Surabaya Smart City

Author:

Category:

Yayuk Eko Agustin merintis usaha Namira Ecoprint tahun 2019. Ide awalnya saat ada lomba Surabaya Smart City. Event yang diadakan Pemerintah Kota Surabaya itu, diikuti 1.405 Rukun Warga (RW).

Sebagai Ketua PKK di perumahan Wisma Kedung Asem, Kecamatan Rungkut, Yayuk berpikir keras untuk menampilkan produk unggulan di event tersebut.

Ide Namira Ecoprint

Ecoprint Fashion
Fashion Show Produk Namira Ecoprint

Lalu, tercetuslah ide membuat ecoprint. Alasannya karena proses pembuatannya cukup mudah. Produknya pasti diminati. Khususnya di kalangan perempuan. Bahan bakunya juga mudah. Seperti kain, daun-daunan, serta pewarna alam. Tidak sulit untuk mendapatkannya.

Untuk produksi juga tidak perlu modal besar. Tidak butuh teknologi yang njlimet. Asal produksinya bagus dan berkualitas, pasti bisa dijual.

Yayuk lalu mengikuti pelatihan ecoprint di Jogjakarta. Dia belajar pengetahuan serta teknik dasar. Yang ikut pelatihan dari berbagai daerah. Ada yang berasal DKI Jakarta, Bandung, Semarang, dan Surabaya.

Belum puas, Yayuk ikut pelatihan lagi, di berbagai tempat. Bahkan, dia sempat mendatangkan trainer ecoprint berpengalaman dari Bandung. Dia benar-benar rakus belajar.

Yayuk serius ingin menghasilkan karya-karya yang diandalkan untuk diikutkan lomba Surabaya Smart City. Dia kemudian bikin produk ecoprint. Awal-awal membuat, hasilnya kurang bagus. Jauh dari sempurna. Tapi dia terus melakukan. Berkali-kali. Tiap hari membuat produk ecoprint.

Akhirnya, Yayuk menemukan komposisi yang pas. Hingga tercipta produk ecoprint yang bagus. Sebelum dilombakan, Yayuk minta pendapat orang-orang terdekat. Berikut trainer-trainer yang mengajarinya. Dia ingin memantapkan hatinya sebelum ikut lomba SSC.

Yayuk surprise. Di lomba SSC, RW-nya dinobatkan sebagai salah satu pemenang. Salah satu yang mendapat penilaian tiggi adalah produk ecoprint buatannya.

***

Yayuk Eko Agustin makin bersemangat. Dari awal hanya ingin menyalurkan hobi, kini serius menjajaki sebagai bisnis. Makin banyak produk ecoprint dibuat.

Yayuk mempersiapkan untuk menjual ecoprint buatannya. Karena tak bisa dikerjakan sendiri, dia libatkan orang-orang di sekitar rumahnya. Bukannya hanya untuk membantu produksi, tapi juga penyediaan bahan karena ecoprint butuh bunga dan daun. Menyulap sampah menjadi produk bernilai.

Dari ikut lomba menjadi aktivitas bisnis. Yang mampu menghasilkan duit. Yayuk mampu menjual ecoprint ke beberapa orang. Awalnya dari teman dekat, kemudian getok tular ke banyak orang.

Saya akhirnya membuka butik. Dia memberi label “Namira Ecoprint”. Nama Namira diambil dalam bahasa Arab yang artinya princess. Harapan dan doanya, mereka yang memakai produk buatannya ini pasti berkesan berkelas dan eksklusif. Caktik bagi perempuan. Cakep bagi kaum laki-laki.

Dalam perjalanan, produk-produk Namira juga telah ditampilkan dalam event berskala nasional. Di antaranya, Surabaya Fashion Festival, Jatim Fair, Surabaya Great Expo, Batik & Bordir Jawa Timur, IWAPI Jawa Timur, Galeri Unggulan Produk Jawa Timur, Kadin Expo, dan pameran periodik yang digelar di mal.

Lewat berbagai event itu, Yayuk mendapat banyak customer. Bukan hanya dari Surabaya, tapi kota-kota lain di Indonesia. Bahkan ada yang berasal dari Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam.

Yayuk juga menjual produknya via online. Hasilnya cukup bagus. Tiap kali posting pasti ada yang membeli. Yayuk makin bersemangat. Dari satu lembar, dua lembar, sampai puluhan lembar terjual.

Yayuk menguatkan tekadterus melahirkan karya-karya berkualitas. Dia juga berhasrat menambah pengetahuan dan meningkatkan ketrampilan. Harapannya bisa merawat bagian dari orang-orang yang concern kekayaan warisan budaya Indonesia. (*)

Read More

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini